SURAT DARI LANGIT

motivasi-ibuOleh    : Much. Taufiqillah Al Mufti

Lama sekali aku menunggu saat ini tiba. Berkah amalku, aku mendapat kesempatan oleh Tuhan-ku untuk berkirim surat (isyaroh) kepada orang yang paling aku cintai selama di dunia. Keadaan jiwa yang sudah bersemayam, kekal, dalam Langit, tak memungkinkan aku bersua dan bercakap dengan orang-orang terkasih. Dan, inilah saatnya kusampaikan cerita dan pesan kepada kalian: anak-anakku.

Merekalah: Mufti, Maulana dan Mahdan, orang-orang (anakku) yang terkasih itu. Sejak 2002 aku meninggalkan ketiganya untuk selama-lamanya, karena aku menderita kanker rahim yang tak tertolongkan lagi. Padahal kata dokter, nyawaku dapat terselamatkan, jika sejak awal mula dioperasi. Sayang, aku takut operasi dengan badan yang dibedah dan darah mengucur itu, sehingga kutolak. Bahkan Ibu (mami) merajuk dan memaksa aku, juga kutolak.

Kepada: Mufti-Maulana-Mahdan (tulisku, pada kepala surat tanpa tanggal dan tahun surat).

Maafkan, Nak (sudikah?). Kalian aku tinggalkan sejak kecil-mungil. Kalau kuingat-ingat, jika tidak salah: Mufti masih berumur sembilan tahun, Maulana tiga tahun, dan Mahdan satu tahun. Betapa kalian bertiga, terkhusus Mahdan yang belum mampu mengenal langsung dan mengingat-ingat tentang aku: wajahku, suaraku, gerakku, dan cintaku, telah kutinggal begitu saja. Dan berdekatan dengan Tuhan. Kelak kalian pun akan berdekatan dengan-Nya, tapi jangan sekarang. Tuntaskan revolusimu, dahulu.

Terkadang, selama di Langit sana, aku memikirkan kalian. Tentang bagaimana keadaan dan nasib kalian. Apakah Mufti masih saja cengeng dan manja sekali? Jangan cengeng saja Nak, kau anak pertama, kau harus berani memimpin adik-adikmu. Dulu, kalau Mufti main dengan anak-anak kampung aku akan selalu cegah, dan kupaksa – kalau perlu ditarik – pulang ke rumah. Kekhawatiranku Mufti akan tertular nakal, berani sama orang tua, berucap kata kotor seperti anak kampung itu.

Apakah Maulana masih kerap mengenakan kerudung? padahal kau lelaki Nak. Kerap kali kau membuat aku tertawa saja Nak. Tingkah lakumu memang lucu, seperti abahmu. Barangkali kau cocok jadi penerus abahmu, kiai kondang, memberikan pencerahan agama dengan menyenangkan. Jauh dari kekerasan yang menyakitkan hati.

Apakah Mahdan … ? Aku tidak tahu sama sekali, kau masih sangat kecil Nak. Baru setahun umurmu. Kuatkah kau menerima kenyataan yang tidak sempat mengenal umikmu untuk selamanya. Semoga kau kerasan untuk sementara dalam gendongan Mbok Giyem, tanpa aku. Maafkan aku Nak, yang belum sempat mengenalkan cinta pertama padamu. Malahan kau menerimanya dari Mbok Giyem yang tidak ada persangkutan darah apapun denganmu. “Nak, sudikah kau memaafkan aku?” airmataku menetes, dan segera kuseka.

Belum sempat aku menyesali itu. Pun aku tak habis pikir, Juli 2013 lalu abahmu menyusul aku. Padahal kutahu abah, suamiku, sudah menikah lagi dengan janda Jepara itu. Nak, apakah abah kalian tidak berbahagia dengannya? Apakah abah masih mengingat-ingat aku, padahal aku telah mengikhlaskannya Nak. O ya Nak, bagaimana perawatan, perhatian, pendidikan dari janda Jepara kepada kalian? Apakah kalian merasakan sakit hati dan tersiksa karena mau tidak mau janda Jepara itu adalah ibu tirimu? Barangkali seperti dikisahkan masyarakat Eropa bahwa ibu tiri itu selalu jahat. Aku kuatir Nak, tapi apalah daya. Aku berada jauh di atas Langit sana.

Nak, Eyang-mamiku-kalian masih hidup. Jangan lupa disambangi ya, kalau perlu temani dan bawa pakaian, menginap di sana saja. Persamakan saja Eyang dengan aku sendiri, jangan berkecil hati Nak. Antara aku dan Eyang, sama saja. Sebab dari Eyang aku mendapat kasih-sayang dan pendidikan seperti sekarang ini. Kau tahu Nak, 1969 aku tiba di Semarang diantarkan oleh buyut kalian: Kiai Haji Jailani Maknawi (Mbah Jailani). Walau Eyang kalian kerap mengomel dan ceriwis, ketahuilah, Eyangmu melakukan itu tulus dan iba kepada cucunya yang ditinggal kedua orangtuanya. Jangan sekali-kali membantah, apalagi melawannya Nak. Sama saja kalian melawan aku.

Nasib kalian masih jauh lebih baik dari pada aku. Pernah kalian dengar cerita dari Eyang? Kalau aku dirawat oleh Eyang Buyut, Mbah Jailani. Pernah suatu kali aku bertanya kepada Bapak (Eyang Kung) saat itu:

“Bapak, ibu pergi kemana?”

“Apa Nak?” Eyang Kungmu kerap kali melamun, banyak pikiran paling. Aku jarang diindahkannya.

“Ibu, Bapak. Kemanakah Ibu sekarang?”

“Ibumu mati, Nak. Jangan tanyakan lagi Ibumu. Biarkan ia tenang di alam sana.”

Barangkali, perasaanku sama seperti Mahdan saat ia mulai mampu berbicara dan mengingat, lalu bertanya kemanakah Ibunya. Dan menerima jawaban yang hampir sama dengan aku, dulu. Bedanya, ternyata Bapak berbohong kepadaku – termasuk kalau Ibu orang Bali. Aku ketahui dari seorang gadis yang mengaku saudara kandungku, namanya Eva Yuliana.

Dalam perjumpaan yang tak disengaja, ia menyapa aku:

“Benarkah, kau saudaraku?”

“Benar Mbak Yul, kita saudara dari Ibu yang sama.”

“Berarti Ibu kita sama-sama meninggal ya?”

“Tidak, Mbak Yul, tidak. Ibu kita masih hidup. Ia tinggal di Semarang. Kapan-kapan silahkan mampir, Ibu teramat kangen dengan Mbak Yul.” Air mataku menetes, sadar dibohongi Bapak. “Jangan menangis Mbak,” gadis yang mengaku Eva itu, merangkulku. Dan aku merasakan hela nafas, dan hangatnya pelukan dari saudara kandungku sendiri.

Sayang sekali, Nak Mahdan. Bahwa berita tentang meninggalnya Ibumu adalah kenyataan. Dan tak mungkin kau berjumpa untuk selamanya. Sekalipun kau telusuri dan cari ke seluruh pelosok dunia. Tidak akan mungkin. Tapi yang terpenting itu adalah kejujuran yang kau terima. Sedang aku menerima kebohongan. Aku lebih merasa sakit hati, dan berujung rasa dendam kepada Bapak.

“Dek Eva,” kulepaskan pelukannya, “kenapa bisa sampai Solo?”

“Aku sekolah di sini, Mbak Yul.”

“Dari mana kau tahu aku di sini Dek.”

“Dari Mbak Ana, yang rumahnya dekat Pasar Kelewer. Dia juga saudara kita.”

“Iya kah? Ana itu teman sekelasku.” Dek Eva tersenyum.

“Mbak Yul, hampir saja aku kelupaan,” Dek Eva merogoh saku bajunya. Diserahkan kepadaku sepucuk surat dengan amplop coklat, “ada titipan surat dari Mami. Ia tak mau mengirimkannya lewat pos, katanya, aku sendiri harus yang mengasihkan.”

Selepas bertemu Dek Eva yang membahagiakan itu. Sesampainya di kamar, kurobek amplop dengan hati-hati tanpa merusak isi dalam surat. Benar, ini dari Ibu! Dan isinya kubacai dengan cermat dan pelan-pelan (bahkan aku eja satu-satu), sebagaimana berikut:

Kepada                                                                                    Semarang, 30 November 1980
Yth. Anakku Tercinta
Yuliatun Robiatul Adawiyyah

Yul, semoga kau senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan Maha Esa.

Setelah kau membuka surat ini, maka kau telah ketahui bahwa Ibumu masih hidup. Kan sudah disampaikan sama Eva. Benar Nak, aku adalah Ibumu, Mamimu. Di dalam rahimku kau dikandung dan kemudian kau dilahirkan. Susah dan sakit sekali Nak, saat melahirkanmu. Bagaimana tidak? Kau adalah anakku pertama, dan kelahiran pertama-tama pasti sangat menyakitkan.

Aku sudah mendengar dari Mbak Huri, Budemu, Ibunya Ana. Bahwa kau diberi tahu sama Bapak, Mami telah meninggal dunia. Sadarilah Nak, bahwa itu bohong. Mami masih hidup. Pun Mami bukan orang Bali, tapi orang Jawa. Ngunut, Ponorogo, di Jawa Timur sana. Tahu kau Nak?

Tentu, sekarang kau sudah besar Nak. Sudah berani pergi kemana-mana kan. Pergilah ke rumah Nak, Km. Pusporagaan No. 378 Semarang Tengah. Naik bis saja Nak, nanti turun di Milo. Carilah wartel atau telpon umum, dan hubungi 024-883824 kalau sudah sampai. Akan dijemput adikmu, Diki.

Sudah ya Nak. Banyak hal yang ingin Mami sampaikan kepadamu. Rasanya tidak cukup kata-kata yang berisi kasih sayang, kerinduan, dan penyesalan, aku tumpahkan semuanya dalam surat ini. Mami ingin melihat kau sekarang tumbuh dan besar. Adakah kau secantik dan semanis  nenek Tun kala mudanya. Mari Nak, pulang. Mami tunggu kabarmu.

Mami yang selalu tulus menyanyangimu,

Muslimatin.

Selama aku dalam pengawasan Mbah Jailani, buyut kalian, Nak. Aku tidak diperbolehkan keluar kemana-mana sendirian. Musti perlu ditemani atau barangkali dikawal. Pernah suatu kali aku mencoba sembunyi-sembunyi pergi ke Semarang setelah pulang sekolah. Sayang, selalu ada saja yang menjemput aku. Atau tatkala berangkat sekolah, selalu diantar. Jadi tidak ada kesempatan sama sekali untuk menerobos, dan plesir ke Semarang. Maka aku sampaikan permohonan maafku kepada Eyang, karena tidak mampu memenuhi janji. Ditambah, kalau aku tanyai Mbah Jailani perihal Eyang, selalu beliau enggan menjawab atau mengalihkan pembicaraan. Sampai di kemudian hari, Mbah Jailani, memohon maaf sedalam-dalamnya kepada Eyang (Mami) karena selama ini telah dibohongi oleh putranya, Bapakku sendiri. Dan sejak itu aku hidup dalam pangkuan Eyang.

Nak, Mufti-Maulana-Mahdan. Barangkali aku sebut ‘M-3 Bersaudara’, karena nama depan panggilan kalian berawalan M semuanya. Huruf M dalam bahasa Arab itu mim, ialah huruf pertama dari Muhammad, nabi kita Nak. Harapanku kalian mampu menjadi pelanjut perjuangan nabi kebesaran kita. Pemimpin Besar Revolusi jauh sebelum Soekarno. Menyebut Soekarno aku jadi teringat Mbah Jailani, ia sangat mengagumi Soekarno. Kalau kalian singgah ke Kauman Solo, tempat tinggalku dulu. Akan kalian jumpai foto Soekarno dengan bingkai besar. Mbah Jailani juga mengoleksi buku-buku karangan Soekarno, salah satunya: Di Bawah Bendera Revolusi. Setahuku, buku itu dibawa oleh abah ke Semarang, di rumah Krobokan. Carilah buku itu Nak!

Seandainya kalian diberi kesempatan berjumpa dengan Mbah Jailani, tidak lain, beliau akan memotivasi kalian agar kelak menjadi pelanjut revolusi Soekarno. Dan kuharap sekarang pun, kalian sedang memperjuangkan itu. Jika kelak kalian menjadi mahasiswa, jadilah aktivis dan berorganisasilah. Saat-saat terakhir aku meninggal, umikmu ini telah banyak berkecimpung dalam organisasi. Dan aku yakin jiwa organisatoris dalam jiwaku tersalur dalam diri kalian, Nak. Seperti Soekarno ya Nak. Sosok yang dikagumi Mbah Jailani. Ia juga berorganisasi. Tanpa organisasi tak akan pernah ada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagaimana bisa terbentuk suatu negara jika tidak pernah ada persatuan.

Sudah ya Nak, sampai di sini saja. Malaikat utusan Tuhan sudah datang kembali padaku. Tangannya diulurkan padaku, meminta surat ini, agar segera disampaikan pada kalian. Tubuhnya besar tapi tidak kentara bentuknya sebab tubuhnya bertaburan cahaya. Silau sekali!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.