TENTANG PENGUSIRAN KETUA PCNU SURABAYA Syamsul Arifin: Tak Cukup Hanya dengan Minta Maaf.

Peristiwa pengusiran ketua PCNU Surabaya oleh ketua DPRD Surabaya, Armudji menuai reaksi keras. Berbagai pihak mengutuk atas insiden ini. Menurut sebagian kalangan, seperti kata Ketua DPRD Jatim, Abdul Halim Iskandar, keputusan PCNU untuk ikut andil dan mengawal penuh Raperda minuman beralkohol (mihol) adalah sebuah langkah yang harus diapresiasi, dan dikawal, bukan malah diabaikan. Apalagi sampai ada aksi pengusiran.

“Bagaimanapun ini menyangkut masa depan generasi bangsa ini, jangan sampai aturan yang dibuat tidak sesuai dan malah membuka peluang adanya perusakan moral bangsa dengan minuman beralkohol,” Ungkap Halim.

Selain itu, Syamsul Arifin ketua DPC PKB Kota Surabaya, beranggapan permohonan maaf Armudji, ketua DPRD Surabaya baik secara tertulis maupun lisan saja tidak cukup. Untuk meredam kemarahan warga NU harus ada klarifikasi secara jelas, apakah pengusiran tersebut memang instruksinya atau bagaimana.

“Saya rasa permintaan maaf saja tidak cukup. Pak Armuji juga harus mengklarifikasi apakah memang benar ada perintah pengusiran atau tidak”, ungkapnya tegas.

Menurut Syamsul Arifin, insiden pengusiran tersebut indikasinya ada perintah untuk pengusiran. Karena tidak mungkin berani Pamdal melakukan hal yang sedemikian tanpa ada instruksi.

“Yang jelas seorang Pamdal dalam melakukan sesuatu itu ada instruksinya. Pasti ada instruksi itu” ucapnya.

Lebih tegas lagi, Satuham Akbar, wakil ketua DPC PKB Surabaya menyatakan bahwa pengusiran ketua PCNU Surabaya oleh ketua DPRD Surabaya ini sudah termasuk pelecehan. Pengusiran ini dalam pendangannya tidak menggambarkan sikap pejabat publik. Satuham curiga bahwa pengusiran ini karena ada motif kepentingan pihak tertentu berkaitan dengan perpanjangan Pansus Raperda mihol.

“Ini pelecehan (Ketua DPRD Surabaya) terhadap NU, saya tahu persis insiden itu, bahkan, saya juga diminta keluar. Silahkan berkilah, terpenting saya tahu kronologisnya,” tegasnya.

Di sisi lain, Ahmad Maskur, sekretaris Forkamibaya PC PMII Surabaya mengancam, jika dalam waktu dekat tidak ada upaya serius dari ketua DPRD Surabaya untuk meredam emosi warga NU berkaitan dengan insiden ini, pihaknya akan menggelar demonstrasi.

“Jika pelecehan semacam ini dibiarkan, kami akan demonstrasi. PC PMII Surabaya tidak tutup mata dengan insiden ini. Ini jelas tindakan tak beradab.” Ungkapnya. (MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.