ASWAJA PENERANGNYA, ISLAM JALANNYA, ALLAH TUJUANNYA

 

Oleh: Muhammad Taufiqillah Al-Mufti*)

Manusia sebagaimana tujuan penciptaannya berperan sebagai Hamba dan Khalifah. Kedua peran tersebut sejatinya tidak bisa dikesampingkan salah satunya. Kedua-duanya berjalan seiring dengan ruang dan waktu. Keduanya merupakan peran yang saling menguatkan. Manusia diciptakan untuk beribadah, dan Allah pun memerintah untuk berjuang dalam aspek ekonomi, social, politik. sebagaimana firman Nya: Tidak lah suatu kaum berubah kecuali ia merubahnya sendiri.

Seorang manusia yang mengutamakan perannya sebagai khalifah akan melupakan tujuan kekhalifahan untuk mendapat ridho Allah. Lalu, manusia dalam perjuangan sebagai khalifah dalam aspek ekonomi, social, dan politik itu tidak lah mencapai keberhasilan tanpa izin dan pertolongan Allah. Seperti perang Badar, bagaimana pasukan yang dipimpin nabi Muhammad berhadapan ribuan pasukan kafir. Rasanya tidak lah mungkin dengan perhitungan matematis dan logika pasukan muslim memperoleh kemenangan. Berkat, seizin Allah pasukan yang dipimpin nabi Muhammad mendapat kemenangan. Ini lah bukti bagaimana khalifah dan hamba, dua peran seorang manusia (Muslim) yang saling kuat-menguatkan; Memperkokoh ikatan iman, memperteguh jiwa, dan ringan dalam bertindak.

Hakikatnya, perjuangan seorang muslim (sebagai hamba dan khalifah) ialah memerangi kebencian. Lalu, perang semacam apa jika tidak didasari dengan kebencian?. Nabi Muhammad sejatinya, ialah tidak berperang berdasar rasa balas dendam, melainkan suatu usaha untuk mempertahankan diri. Supaya kelangsungan proses Islamisasi dan membumikan nilai kemanusiaan keadaban terus hidup sampai akhir zaman. Bukti otentik manalaka nabi Muhammad senantiasa istiqomah menyuapi seorang Yahudi yang buta, sampai akhir hayat nabi. Terlebih telah kita ketahui bahwa bentuk dan isi Piagam Madinah tidak lah mensubordinasi suku, bangsa, dan agama tertentu, namun menjadi payung yang teduh untuk menaungi seluruh umat. Sebenarnya, apa yang ingin dipertahankan dan ditanamkan nabi Muhammad?, ialah Cinta.

Perkembangan pemikiran dan teknologi mutakhir menciptakan suatu tantangan yang lebih kompleks dari zaman nabi Muhammad. Adanya kemajuan teknologi tanpa disertai penguatan moral membuat hati nurani manusia menjadi buta dan keras. Tak ada batasan ‘alim dengan awam, dan tua dengan muda. Begitu bebas dan tanpa batas masyarakat menghujat dan menghakimi orang/golongan/institusi, padahal tidak tahu kondisi dan latar belakang persoalan. Lebih parah, itu tanpa proses feed back, timbal balik, atau konfirmasi. Mereka begitu lantang menyuarakan opini yang sama sekali mentah, tapi begitu diyakini. Itu lah akibat dari perkembangan pemikiran. Sama sekali subjektif.

Pada abad ke 18, muncul sebuah pemikiran dari seorang filsuf Inggris/Jerman; Karl Marx dan F. Angel. Keduanya menghujat para gerejawan dan kapitalis (pemodal) yang tidak mampu memberikan keadilan, sehingga mengancam akan memunculkan gelombang massa aksi revolusi. Memang perjuangan Marx dapat dibenarkan, yang diperjuangkannya adalah keadilan ekonomi. Tapi yang patut digaris bawahi, dampak dari gelombang masa aksi revolusi itu adalah rasa kebencian dan keinginan balas dendam.

Pada abad pertengahan Islam, ada seorang tokoh ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau dikenal sebagai busur intelektual pemikiran Wahabiy. Keinginan beliau yang begitu sangat, bagaimana memurnikan ajaran-ajaran Islam pada zaman nabi Muhammad dan menghapus segala ritual bid’ah. Supaya pemikirannya dapat diterima, dihujat kepada siapapun penentangnya sebagai golongan kafir. Perilaku ini disebut takfiriyah. Memang dasar tindakannya ialah kecintaan, terutama pada nabi. Namun cinta yang buta, akan membabi buta kepada siapa saja yang tidak suka. Akhirnya terciptalah kebencian.

Dua pemikiran Marxis dan Wahabiy tadi tidak lah salah, masih menyimpan maksud baik. Kita dapat melihat bagaimana konflik Islam paska wafatnya nabi, pertarungan dan perperangan, meletus perang siffin dan jamal, kebencian antar sesama muslim. Adanya penggolongan syi’ah, khawarij, dan murji’ah bagian dari dampak peperangan itu. Namun di saat itu juga ada suatu barisan muslim yang menolak berpihak kemanapun dan menginginkan saling berdamai, barisan kaum muslim itu dipimpin oleh Hasan Basri. Jadi perbedaan dan perperangan sudah terjadi sejak dahulu, dan di saat itu pula telah terdapat agen perdamaian. Dalam perjalanan waktu, barisan muslim Hasan Basri itu menyebut dirinya sebagai sunni atau Aswaja.

Memahami Islam tidak lah dengan sepotong atau dua potong ayat Al-Quran. Namun harus melewati proses yang panjang. Allah berfirman: Aku telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, tanpa mengetahui apapun. Dan aku jadikan (berikan) pendengaran, penglihatan, dan hati (akal budi) agar kalian bersyukur. Semua manusia baik mereka seorang kafir, kapitalis, dan ahlu bid’ah tidak lah semata-mata mereka diciptakan untuk suatu tujuan jahat. Manusia dilahirkan di bumi tak membawa apa-apa (harta) dan tidak tahu apa-apa (pengetahuan/ideology). Disitu lah seorang manusia dengan berbekal pendengaran, penglihatan, dan akal menggali pengetahuan dan menggapai cita-citanya karena rasa syukurnya.

Dalam pandangan Islam Aswaja, sebagaimana nukilan ayat tadi. Kita harus memiliki keseimbangan (tawazun) dan kematangan berfikir (tawasuth) dalam menyikapi persoalan duniawi. Artinya, tidak lah benar, jika kita menuduh kafir kepada seorang muslim, lantaran tidak mengerjakan sholat. Setidaknya, kita mencari penyebab dan latar belakang muslim tadi tidak sholat. Dan bukan lah semena-mena kita menghakimi batal/tidak sah sholat yang tidak membaca qunut.

Dasarnya dianjurkan memiliki suatu prinsip dan madzhab fiqih, bahkan diharuskan!. Tetapi jika kita berhadapan dengan perbedaan, maka prinsip tadi semakin kita kokohkan, tapi dengan perwujudan sikap yang santun dan ramah. Walau pun kita dipancing untuk marah, kita tetap menampilkan sikap ramah. Ini lah seorang khalifah itu, bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif; ramah dalam social, adil dalam ekonomi, bijaksana dalam politik, dan teguh pada tauhid.

Saya teringat perupamaan Imam Hamid Al-Ghozali ketika menggambarkan kehidupan muslim di dunia. Adalah ibarat manusia yang berlayar dari pulau akhirat. Di sana mereka diberikan petunjuk bahwa mereka akan dihantarkan ke pulau dunia dengan sebuah kapal. Di pulau dunia, mereka ditugaskan untuk beribadah. Tak lebih!. Lalu, ketika pada wakunya mereka akan diangkut lagi ke kapal untuk kembali ke pulau akhirat. Pada proses mereka mendiami di dunia, tidak mengindahkan tugas awal mereka; ibadah. Mereka malah berfoya dengan harta, bermain wanita, mabuk-mabukan, dan menyembah berhala. Ketika kapal itu datang, mereka yang sudah nyaman dengan dunia tidak ingin meninggalkannya. Sedangkan, sebagian manusia yang sejak awal teguh memegang iman mereka dengan sukarela masuk dalam dek kapal itu.

Dalam pandangan saya, khalifah itu yang akan mengawal umat manusia sejak dari pemberangkatan di pulau akhirat, menginjak sementara di dunia, dan menggiring umat manusia lagi ke pulau akhirat. Khalifah itu berbekal sebuah obor, ialah Aswaja dengan 4 dasar pemikirannya; tawasuth (moderat), tasammuh (toleran), tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (keadilan), untuk penerang jalan. Jalan itu adalah Islam. Tanpa sebuah penerang khalifah itu tidak akan mampu menentuk arah yang tepat. Demi mengantarkan serombongan umat manusia pada tujuannya, Allah Subhanahu Wata’ala.

*) Intelektual muda, aktif di berbagai organisasi kepemudaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.